Biography

Achmad Syatibie Ramadhon Nama yang diberikan oleh orang tua ini bagi saya sangatlah bermakna dan spesial. Bagaimana tidak, saya dilahirkannya bertepatan dengan datangnya bulan yang mulia yaitu bulan suci Ramadhon, tepatnya pada hari Jumat 11 Ramadhan atau pada tanggal 16 Januari 1997 di kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Saya adalah putra kedua dari lima bersaudara, dari pasangan seorang Abi (Raden Herman Suparman bin Raden Aceng Ali) dan Umi (E. Maimunah binti Sambas Hasan) yang sangat luar biasa. Kedua orang tua saya ini asli dari Garut, Jawa Barat.
Sejak Kecil, saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang agamis, karena abi adalah seorang lulusan pondok pesantren dan juga sebagai Qari serta guru ngaji. Ketika saya berumur genap lima tahun sudah mampu membaca iqra bahkan sudah hafal beberapa surah-surah pendek dalam Alquran, sampai akhirnya ketika menginjak sekolah dasar sudah hafal juz 30 (Juz ‘Amma). Saya selalu dididik untuk menjadi seorang yang ahli Qur’an (Hafizh Quran) ketika besarnya nanti.

Beberapa perlombaan pun sudah pernah saya diikuti untuk mengetahui seberapa kuat dan bagus hafalannya saat itu, di mulai dari perlombaan lomba tahfizh juz ‘amma tingkat Sekolah Dasar terbaik 1, lomba adzan tingkat Kecamatan terbaik 2, dan lomba tilawatil quran anak-anak tingkat kota terbaik 1.

Di masa Aliyah/SMA di Pesantren/Rumah Tahfizh, saya tak lepas dengan Al Qur’an, baik itu Menghafal dan Murojaah tiap harinya, menjadi Imam dan di undang untuk mengaji di acara-acara seperti nikahan, Syukuran, dan acara lainnya. Ketika di Aliyah perlombaan seperti MTQ dan MHQ sudah tidak asing lagi bagi saya. Saya mengikuti Perlombaan MHQ 5 juz yg diadakan oleh Rumah Tahfizh tingkat Provinsi Sumsel dan berhasil mendapatkan terbaik pertama dengan hadiah Umroh, Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Ketika lulus dari pondok, tahun 2015 lalu, saya mulai berpetualang. Biidznillah ketika itu dapat panggilan untuk mengajar sekaligus menambah pengalaman hidupnya di ujung kepulauan Indonesia, yaitu tepatnya di Kota Jayapura, Papua. Selama kurang lebih satu tahun dan di tahun berikutnya melanjutkan pengabdian di Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Huffazh Pesawaran Lampung selama hampir satu tahun mengabdi dilampung. Kembali dengan keberkahan dan kemuliaan dari Al Qur’an, saya diajak oleh pimpinan pondok tersebut untuk menjadi Imam tarawih di Masjid Kesultanan di negeri Jiran atau tepatnya di Negeri Alor setar Kedah, Malaysia selama bulan Ramadhan.

Akhirnya saya bisa melanjutkan studi Strata Satu (S1) di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ), Jakarta pada tahun 2017 sampai sekarang. Mulai dari Awal-awal masuk PTIQ sudah dipercayai untuk mengikuti lomba MHQ dan MTQ antar kampus di tingkat kota maupun provinsi di DKI Jakarta. Karena hidup dan matiku adalah untuk Alqur’an, Semoga Allah meridhai semua cita-citaku dan kita semua ini InsyaaAllah, Aaamiiin.

REMINDER!
Alquran adalah warisan yang paling berharga yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wariskan utntuk kita semua, Baginda yang mulia Bersabda :
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian, yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan pernah tersesat selama –lamanya, yaitu Kitabullah ( Alquran ) dan Sunnah Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam“

0
Reviews
0
Suka